Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga mendekati Rp17.400 per dolar AS. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan kebutuhan musiman dalam negeri.
Menurut Perry, penguatan dolar AS terjadi seiring tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil (yield) obligasi US Treasury, serta lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, permintaan dolar meningkat pada periode April hingga Juni untuk kebutuhan pembayaran dividen perusahaan asing, pembayaran utang luar negeri, hingga kebutuhan musim haji.
Meski demikian, BI menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Perry menegaskan pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dibanding penurunan daya tahan ekonomi nasional.
“Rupiah sebenarnya masih berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalue) dan berpeluang kembali stabil seiring membaiknya sentimen pasar,” ujar Perry.
BI juga memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan menjaga stabilitas ekonomi guna meredam volatilitas rupiah.