Setelah menjalani sif kerja yang panjang dan menghabiskan malam bersama istri serta dua putri remajanya di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Timur, Muhammad Iqbal El Mubarak berharap dapat segera pulang dan beristirahat.
Namun ketika mobilnya keluar dari area parkir, sang istri menunjukkan unggahan media sosial mengenai kecelakaan kereta yang terjadi sekitar satu jam sebelumnya di Stasiun Bekasi Timur, sekitar 30 menit dari lokasi mereka.
Menurut unggahan tersebut, jumlah korban tampak cukup banyak.
Hari itu adalah Senin, 27 April. Iqbal membayangkan kereta tersebut pasti dipenuhi para komuter yang sedang pulang kerja. Dalam benaknya, stasiun sudah berubah menjadi lokasi yang kacau: penumpang terluka, keluarga yang panik, paramedis yang kewalahan, dan tim penyelamat yang kesulitan menangani situasi.


Tanpa banyak ragu, ia mengubah arah perjalanan. Dengan istri dan kedua putrinya masih berada di dalam mobil, dokter bedah berusia 41 tahun itu langsung menuju stasiun karena tahu petugas tanggap darurat akan membutuhkan sebanyak mungkin bantuan.


“Ada begitu banyak orang, tetapi sebagian besar hanya berdiri dan tidak tahu harus berbuat apa,” kata Iqbal. “Saya harus turun tangan.”
Ketika tiba di lokasi, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, sekitar dua jam setelah kecelakaan.
Menurut Iqbal, tidak ada pihak yang tampak mengoordinasikan tim medis yang datang dari berbagai rumah sakit. Tidak jelas siapa yang melakukan triase korban atau menilai tingkat keparahan cedera mereka. Tidak ada pula yang memantau ketersediaan peralatan dan pasokan medis.


Sebagai ahli bedah yang memiliki pengalaman dua dekade menjadi relawan di berbagai zona bencana di Indonesia maupun luar negeri, Iqbal dikenal media lokal dan para pejabat senior sebagai sosok penting dalam upaya penyelamatan lima korban yang terjebak di antara puing-puing gerbong khusus perempuan yang ringsek.

Iqbal mengatakan, dirinya berupaya menjaga para korban tetap terhidrasi dan mencegah mereka mengalami syok. Ia juga mengambil keputusan untuk memberikan sedasi atau obat penenang kepada beberapa korban agar tim penyelamat dapat mengeluarkan mereka tanpa menimbulkan rasa sakit yang tak tertahankan.
Sebulan setelah tragedi tersebut, perannya dalam operasi penyelamatan membuat namanya menjadi sorotan media Indonesia dan mendapat pengakuan dari berbagai pihak.


“Iqbal sangat berperan dalam menjaga para korban tetap hidup ketika tim penyelamat berusaha membebaskan mereka,” kata Desiana Kartika Bahari, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Jakarta yang memimpin operasi malam itu.


“Ia mengarahkan tim medis di lokasi dan bertahan sampai korban terakhir berhasil dievakuasi pada pagi hari.”
Menurut pihak berwenang, korban pertama yang terjebak, Nurul, 26, berhasil dievakuasi pada pukul 04.17, tujuh jam lebih setelah kecelakaan. Korban kelima dan terakhir yang terjepit, Endang Kuswati, 41, berhasil diselamatkan pada pukul 07.25.


Sebanyak 15 orang meninggal dunia malam itu. Satu korban lainnya, Mia Citra Rumaisha, 25, — salah satu dari lima korban yang dibantu Iqbal — meninggal akibat luka-lukanya dua hari kemudian.
BERPACU MELAWAN WAKTU
Kecelakaan bermula ketika sebuah taksi listrik dilaporkan mogok di perlintasan sebidang tanpa penjaga di dekat stasiun. Pada pukul 20.48, kendaraan tersebut ditabrak kereta komuter yang melaju dari arah timur ke barat.


Ketika kabar tabrakan menyebar, warga berkumpul di sepanjang rel. Sementara itu, kereta komuter lain yang datang dari arah berlawanan diminta berhenti di Stasiun Bekasi Timur.


Kereta ketiga yang melayani perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya kemudian menabrak kereta komuter yang sedang berhenti tersebut, menghancurkan gerbong khusus perempuan yang penuh penumpang di bagian belakang rangkaian.


Desiana mengatakan benturan tersebut sangat dahsyat hingga lokomotif diesel menembus sekitar 10 meter ke dalam badan kereta komuter yang padat penumpang, meremukkan badan gerbong dan menjebak para penumpang di dalamnya.
Tim penyelamat harus memotong sejumlah jendela menggunakan gunting dan pembuka hidraulik untuk mengevakuasi puluhan penumpang. Namun, lima korban masih terjebak akibat himpitan rangka logam yang ringsek. Percikan listrik, debu, dan puing berserakan di mana-mana. Udara terasa panas, lembap, dan dipenuhi bau solar dari lokomotif.


“Kami harus terlebih dahulu menyingkirkan puing-puing berbahaya yang bisa runtuh menimpa korban. Itu prioritas utama kami. Pada saat yang sama, kami bekerja perlahan dan hati-hati, membebaskan korban satu per satu dengan melepaskan logam yang menjepit kaki mereka,” kata Desiana.


Saat proses evakuasi berlangsung, Iqbal melihat kondisi para korban mulai memburuk.


“Mereka mulai mengantuk. Beberapa sudah tidak responsif,” katanya. “Kadar gula darah mereka menurun, jadi saya meminta relawan mencari permen dan makanan manis untuk mereka.”


Paramedis memasangkan masker oksigen kepada kelima korban dan memberikan cairan infus untuk mencegah dehidrasi sekaligus memudahkan pemberian obat pereda nyeri dan obat-obatan lainnya.


Sementara itu, pihak berwenang berusaha mengurangi suhu panas di dalam gerbong yang hancur dengan mengalirkan udara dari beberapa kipas listrik melalui seluncuran evakuasi kebakaran yang dipinjam dari dinas pemadam kebakaran setempat.
Ketika operasi penyelamatan berlangsung semakin lama, Iqbal mulai khawatir waktu semakin menipis, terutama jika para korban mengalami cedera dalam yang membutuhkan penanganan medis segera.


“Setiap kali tim penyelamat mencoba menggerakkan mereka, rasa sakitnya luar biasa dan mereka secara naluriah melawan,” katanya.


“Saat itulah saya menyadari kami perlu memberikan anestesi. Pertama, agar mereka tidak perlu terus menanggung rasa sakit. Kedua, agar tubuh mereka lebih rileks sehingga tim penyelamat bisa mengeluarkan mereka dengan lebih mudah.”


Iqbal mengatakan, ia mendatangi setiap korban satu per satu untuk meminta izin sebelum memberikan anestesi umum dan melanjutkan proses evakuasi.


Rencana tersebut berhasil. Satu demi satu korban akhirnya berhasil dibebaskan dari reruntuhan.

Baru setelah itu Iqbal dan keluarganya, yang menunggu sepanjang malam di dalam mobil, dapat pulang dan beristirahat.
'MACGYVER DUNIA MEDIS’


Iqbal mengatakan, istri dan kedua putrinya tidak terkejut ketika ia harus menghabiskan malam di lokasi bencana alih-alih pulang ke rumah.


Selama bertahun-tahun, mereka sudah terbiasa melihatnya pergi pada jam-jam yang tak menentu untuk merespons keadaan darurat, bencana alam, dan krisis kemanusiaan di Indonesia maupun negara lain, termasuk Bangladesh, Turki, dan Gaza.


Rasa tanggung jawab itu, kata Iqbal, mulai terbentuk ketika ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Syiah Kuala, Aceh.


Saat itu Aceh masih berupaya bangkit dari tsunami Samudra Hindia 2004, salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah modern yang menewaskan lebih dari 170.000 orang di Indonesia.


Banyak dosen dan dokter yang mengajarnya merupakan penyintas atau pernah terlibat langsung menangani bencana tersebut.


“Mereka mengajarkan kepada kami bahwa menjadi dokter bukan hanya soal bekerja di rumah sakit,” kata Iqbal. “Menjadi dokter berarti hadir ketika orang-orang sedang mengalami penderitaan paling berat.”
Bahkan, ketika masih mahasiswa, Iqbal selalu menjadi relawan dalam hampir setiap operasi bantuan bencana yang dapat ia ikuti.


Penugasan pertamanya adalah saat gempa Yogyakarta 2006 yang menewaskan lebih dari 5.000 orang dan melukai puluhan ribu lainnya.


“Saat itu saya masih mahasiswa, jadi yang bisa saya lakukan hanyalah membersihkan luka dengan antiseptik dan memasang perban,” kenangnya.


Sejak itu, Iqbal terus meningkatkan keterampilannya melalui pelatihan panjat tebing, penyelamatan gunung, dan teknik evakuasi darurat.


Ia kemudian memilih spesialisasi bedah umum, bidang yang ia sebut sebagai “MacGyver dunia medis”, merujuk pada tokoh fiksi Angus “Mac” MacGyver yang terkenal mampu menemukan solusi dalam situasi yang tampaknya mustahil.
MASIH BANYAK YANG PERLU DIBENAHI

Polisi telah menetapkan pengemudi taksi listrik yang memicu kecelakaan awal sebagai tersangka kelalaian, dengan ancaman hukuman maksimal enam bulan penjara. Pengemudi dengan inisial RRP itu dilaporkan baru bekerja dan minim pengalaman mengemudikan kendaraan otomatis.
Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih menyelidiki mengapa kereta ekspres diizinkan berada di jalur yang sama dengan kereta komuter yang berhenti dan mengapa kereta yang bergerak gagal melakukan pengereman tepat waktu.


Dalam rapat dengar pendapat di DPR pada 21 Mei, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan bahwa kereta jarak jauh tersebut sebenarnya masih berjarak sekitar 1,3 kilometer ketika tabrakan pertama terjadi, sehingga masinis seharusnya memiliki cukup ruang untuk berhenti.

Menurutnya, salah satu kemungkinan adalah masinis melewatkan sinyal peringatan karena kereta berjalan tiga menit lebih cepat dari jadwal. Saat lampu peringatan menyala, kereta dilaporkan sedang melintasi area yang terang benderang, yang berpotensi menghalangi pandangan terhadap sinyal tersebut.


Kemungkinan lainnya adalah adanya keterlambatan komunikasi antara operator kereta yang berbeda. Di Indonesia, kereta komuter dan kereta jarak jauh berada di bawah sistem pengawasan dan pengendalian yang berbeda.
Ketika terjadi insiden, “pengendali kereta komuter harus melapor terlebih dahulu kepada atasannya, yang kemudian meneruskan informasi tersebut kepada supervisor kereta ekspres sebelum informasi tersebut sampai kepada masinis,” kata Soerjanto .

Cara penanganan evakuasi juga dinilai masih perlu diperbaiki.


Desiana mengatakan tim SAR baru mengetahui kecelakaan tersebut melalui grup WhatsApp sekitar 20 hingga 30 menit setelah kejadian.


“Untungnya, salah satu tim kami sedang berada sekitar 10 menit dari lokasi,” katanya. Desiana menambahkan bahwa akses menuju peron stasiun seharusnya lebih dibatasi selama operasi penyelamatan berlangsung.
“Kami memahami banyak orang benar-benar ingin membantu, tetapi sebagian besar justru menghambat proses penyelamatan,” katanya.


“Proses penyelamatan terus terganggu karena lokasi terlalu padat. Orang-orang tersandung kabel listrik kami sehingga peralatan sempat mati.”


Iqbal juga menilai masih banyak ruang untuk perbaikan.


“Banyak paramedis datang, tetapi tidak ada yang memimpin. Kami sempat kekurangan obat-obatan karena tidak ada yang mengomunikasikan kebutuhan korban dan apa yang harus dibawa para paramedis ke lokasi,” katanya.


“Kami membutuhkan dokter gawat darurat dan ahli bedah trauma untuk mengambil alih komando dalam situasi korban massal seperti ini. Sayangnya, tidak banyak yang bersedia datang ke lokasi kecelakaan atau daerah bencana sebagai relawan.”


Bagi Iqbal, kecelakaan ini menyoroti persoalan yang lebih besar dalam sistem layanan kesehatan darurat dan penanggulangan bencana di Indonesia.


“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak dokter berpengalaman dan terampil yang siap diterjunkan kapan saja ke mana pun mereka dibutuhkan,” katanya.


“Jika di kota padat penduduk seperti Bekasi saja bisa terjadi kekurangan dokter berpengalaman saat kecelakaan besar, bayangkan bagaimana situasinya di desa-desa terpencil dan wilayah yang terisolasi.”
Catatan Redaksi: Artikel ini diterbitkan oleh BeritaDunia. Setiap pembaruan akan ditampilkan melalui halaman artikel ini.